DAHSYATNYA MODEL BELAJAR MANDIRI (Contoh Penerapan Berbasis Pengalaman)

Oleh: I S M A I L

 A.      PENDAHULUAN

              Dalam tulisan ini, yang penulis maksudkan dengan judul di atas adalah lebih ingin memberikan suatu apresiasi yang sangat positif berdasarkan pengalaman penulis bahwa “model belajar mandiri” yang penulis baca dan pahami dari karya besar Prof. Drs. Haris Mujiman, M.A., Ph.D. dalam dua buku terbitan UNS Press yang berjudul: “Belajar Mandiri (Self-Motivated Learning)”, edisi 2, 2009; dan “Belajar Mandiri, Pembekalan dan Penerapan”, edisi Agustus 2011, keduanya mendeskripsikan konsep yang sangat jelas tentang belajar mandiri yang diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu: 1) Guided Self Motivated Learning (Belajar Mandiri Terpimpin/ terbimbing), dan 2) Independent Self-Motivated Learning (ISML) atau disebut juga Self-Motivated Professional Development Model (SMPD). Kedahsyatan “model belajar mandiri” sebagai payung terletak pada sifat fleksibilitasnya yang dapat diterapkan dalam berbagai status.

Penulis merasakan “Kedahsyatan” model tersebut karena praktik pembelajaran yang selama ini penulis laksanakan sebagai dosen/ pendidik profesional di Perguruan Tinggi selama kurang lebih 15 (lima belas) tahun, baru mengetahui “nama”nya secara konseptual setelah membaca dan memahami dua buku karya Prof. Drs. Haris Mujiman, M.A., Ph.D. tersebut dan diskusi interaktif selama mengikuti perkuliahan Pengembangan Model Pembelajaran Inovatif (PMPI). Lebih dari itu, kedahsyatan “model belajar mandiri” sebagai payung juga karena sifat fleksibilitasnya yang dapat diterapkan dalam berbagai status.

Pada tulisan ini pula, penulis akan mendeskripsikan sebuah contoh “model belajar mandiri” berbasis pengalaman dalam melaksanakan tugas profesional sebagai pendidik, yaitu melaksanakan Tri Dharma PT yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat.  Sistematika dan isi tulisan ini tidak lepas dari ketentuan yang ditetapkan oleh Dosen Pembimbing mata kuliah ini, meliputi: 1) Telaah terhadap buku “Belajar Mandiri, Pembekalan dan Penerapan”, edisi Agustus 2011, Bab II, Bagian II, khususnya bab Penutup; 2) Telaah model SMPD; 3) tulisan berdasarkan pengalaman dengan mengikuti langkah-langkah SMPD; 4) tulisan didukung kutipan dari pakar, daftar pustaka dan lampiran artikel yang banyak dikutip.

Tulisan ini diharapkan dapat menambah pemahaman pembaca khususnya bagaimana konsep/ model belajar mandiri diterapkan dalam praktik pembelajaran yang dilakukan oleh para pendidik yang bertugas pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi.

  1. B.       MODEL BELAJAR MANDIRI: PERSPEKTIF PARA AHLI

Sebelum dideskripsikan lebih lanjut, perlu ditegaskan di sini definisi model belajar mandiri dalam perspektif para ahli pembelajaran yang lain, yang dimaksudkan untuk penegasan definisi dan posisi sebuah model. Prof. Haris Mujiman (2011:196) mengemukakan bahwa model belajar mandiri merupakan “Model Payung”. Ia bisa dikerjakan dalam kesatuannya dengan model lain yang menggunakan komponen-komponen konsep yang sama. Model belajar mandiri bisa berujud checklist yang diajukan pendidik kepada dirinya sendiri saat ia menjalankan suatu model. Menurutnya, model belajar juga bisa dijalankan sebagai model tersendiri terlepas dari model lain yang dijalankan pendidik. Kuncinya adalah bila pendidik telah menjalankan langkah-langkah untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didiknya, melaksanakan belajar aktif dan dengan konstruktivisme membangun suatu kompetensi pada diri peserta didik, maka model apapun yang sedang ia jalankan, pada hakikatnya ia telah berpayung pada Model Belajar Mandiri.

Bagaimana posisi “model belajar mandiri” dalam perspektif para ahli pembelajaran lainnya? Tampaknya, model belajar mandiri yang digagas oleh Prof. Haris Mujiman ini, singkron dengan konsep-konsep yang telurkan oleh pakar lain, semisal Melvin L. Silberman, dalam bukunya Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject (1996); pada bagian pengantar ia menegaskan bahwa yang bisa membuahkan hasil belajar yang langgeng hanyalah belajar aktif. Pada bagian 57, ia juga menyampaikan pentingnya belajar mandiri dengan menyatakan bahwa bekerja dengan cara mereka sendiri (pembelajar) memberi kesempatan untuk memikul tanggungjawab pribadi atas apa yang mereka pelajari. Di samping itu, model belajar mandiri ini juga singkron dengan konsep Collaborative Learning yang digagas oleh Elizabeth F. Barkley dan kawan-kawan yang menegaskan pentingnya pembelajaran berbasis pada konstruktivisme. Ia menyatakan: “collaborative learning is based on different epistemological assumptions, and it has its home in social constructivism” (Barkley dkk., 2005: 6). Model belajar mandiri juga tidak berlawanan dengan model belajar cooperative learning yang digagas Slavin (1990) maupun yang dipopulerkan Smith (1996:71) yang menegaskan:…the student work together to maximize their own and eachh others’ learning”. Di samping itu, aspek motivasi yang sangat terkait dalam mendukung Model belajar mandiri, Richard E. Mayer, dalam bukunya Learning and Instruction, mengemukakan: according to achievement goal theory, students learn best when they want to understand the material and when they want to perform well (Mayer, 2008:521). Dengan demikian, dapat digarisbawahi kembali bahwa apa pun model pembelajaran yang digunakan seorang pendidik (Dosen, Guru, pelatih, dan pendidik lainnya) selama memiliki kriteria menstimulasi pembelajaran aktif, baik secara individu maupun kelompok dan berbasis konstruktivistik, maka termasuk berpayung pada Model Belajar Mandiri sebagaimana digagas Prof. Haris Mujiman.

  1. C.      SMPD:SEBUAH CONTOH PENERAPAN BERBASIS PENGALAMAN

Berikut ini deskripsi pengalaman penulis sebagai dosen pengampu matakuliah Metodologi Pembelajaran Agama Islam (MPPAI) di Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, dalam melaksanakan model belajar mandiri yang menurut klassifikasi Prof. Haris Mujiman disebut Independent Self-Motivated Learning (ISML) atau disebut juga Self-Motivated Professional Development Model (SMPD). Berdasarkan pengalaman yang telah penulis lakukan melalui langkah-langkah berikut.

  1. Saya menetapkan kompetensi utama (KU) yang ingin saya kuasai, yaitu “Mengantarkan mahasiswa dapat memiliki pengetahuan, sikap dan ketrampilan menerapkan berbagai metode pembelajaran Agama Islam dengan profesional”.
  2. Saya yakin bahwa saya mampu melaksanakan tugas itu karena merupakan suatu kewajiban profesional sebagai dosen.
  3. Rencana Penguasaan Kompetensi, yaitu kompetensi-kompetensi antara (KA) meliputi: a) membuat silabus; b) membuat SAP (satuan acara perkuliahan); c) menyiapkan bahan ajar/ hand out perkuliahan mata kuliah MPPAI; d) menyiapkan berbagai media pembelajaran berbasis ICT dan lingkungan sekitar; dan e) menyiapkan instrumen evaluasi perkuliahan.
  4. Kemudian saya lakukan identifikasi kompetensi-kompetensi antara (KA) yang telah saya miliki meliputi: a) membuat silabus; b) membuat SAP (satuan acara perkuliahan);  dan c) menyiapkan berbagai media pembelajaran berbasis ICT dan lingkungan sekitar. d) menyiapkan instrumen evaluasi perkuliahan. Sedangkan kompetensi antara (KA) yang harus saya bangun dan wujudkan adalah membuat buku ilmiah untuk pegangan matakuliah Metodologi Pembelajaran Agama Islam (MPPAI).
  5. Pelaksanaan rencana: dalam melaksanakan rencana pemembuatan buku ilmiah untuk pegangan matakuliah Metodologi Pembelajaran Agama Islam (MPPAI), melalui beberapa upaya/siklus berikut. Pertama, saya mengumpulkan buku-buku referensi terkait metodologi pembelajaran dan Pendidikan Agama Islam  (kurang lebih 72 buah buku). Kedua, saya membuat proposal penelitian terkait implementasi pembelajaran aktif dan disetujui sekaligus didanai oleh Pusat Penelitian (Puslit), dalam waktu lebih kurang 1,5 (satu setengah) bulan penelitian dapat selesai dan dipertangunggjawabkan dalam seminar/review hasil penelitian (terhitung sebagai bagian dari kegiatan Tri Dharma PT, yaitu penelitian). Ketiga, hasil penelitian yang telah disyahkan langsung saya modifikasi menjadi draft buku ilmiah dengan judul Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan)  dan menjadi Handout kuliah MPPAI yang saya ampu selama satu semester (terhitung sebagai bagian dari kegiatan Tri Dharma PT, yaitu pendidikan dan pengajaran_aspek karya ilmiah). Keempat, draft buku ilmiah dalam bentuk handout itu, juga saya gunakan sebagai bahan pelatihan dan TOT (Training of Trainer) guru-guru PAI di beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah (sebagai bagian dari kegiatan Tri Dharma PT, yaitu Pengabdian kepada Masyarakat). Kelima,  sambil terus saya sempurnakan isi dan sistematikanya, akhirnya draft buku tersebut saya ajukan ke penerbit dan disetujui untuk diterbitkan oleh Penerbit Rasail Media Group Semarang.Terbitan edisi pertama tahun 2008, dan hingga tahun 2011 lalu sudah edisi ke 12. [BUKU TERLAMPIR UNTUK  PROF. HARIS, DOSEN PENGAMPU]
  6. Evaluasi Pencapaian Kompetensi : Buku ilmiah yang telah diterbitkan 12 edisi oleh Penerbit Rasail Media Group Semarang dengan judul Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) ini selama 4 tahun terakhir telah dijadikan buku pegangan mayoritas mahasiswa yang mengambil matakuliah MPPAI di IAIN, UIN, STAIN dan PTAIS se Indonesia dan juga menjadi buku referensi utama bagi guru PAI dalam jabatan peserta PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru). Secara legal buku ilmiah  yang bernomor ISBN: 978-979-1332-14-9 tersebut juga telah diakui dalam penghitungan Pengajuan Angka Kredit (PAK) oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama pada Penulis mengajukan kenaikan pangkat Lektor Kepala (IV/b). Sehingga hal tersebut menjadi indikator keberhasilan pencapaian kompetensi yang telah rencanakan.

Demikianlah deskripsi singkat berbasis pengalaman tentang sebuah contoh penerapan “Model Belajar Mandiri” yang disebut Prof. Haris Mujiman sebagai Independent Self-Motivated Learning (ISML) atau disebut juga Self-Motivated Professional Development Model (SMPD). Hal tersebut merupakan bagian tidak terpisahkan dari upaya melaksanakan Sistem Pengembangan Profesioanalisme Dosen (SPPD) di Perguruan Tinggi dalam kerangka menjalankan amanah Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2009 Tentang Dosen.

  1. D.      GSML:SEBUAH CONTOH PENERAPAN BERBASIS PENGALAMAN

Berikut ini disajikan sebuah contoh  penerapan model belajar mandiri yang disebut GSML (Guided Self-Motivated Learning) atau Belajar Mandiri Terpimpin/Terbimbing yang dilakukan guru/pelatih dalam melaksanakan kegiatan belajar mandiri bagi peserta didik. Secara prosedural tersaji dalam bentuk RPP berikut.


Contoh: RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

BERBASIS MODEL BELAJAR MANDIRI

Satuan Pendidikan  : SMP/MTs Labschool IAIN Walisongo
Mata Pelajaran

:

Pendidikan Agama Islam (PAI)
Kelas / Semester

:

VIII / 1I
Standar Kompetensi

:

14. Memahami hukum Islam tentang hewan sebagai sumber bahan makanan.
Kompetensi Dasar

:

14.1. Menjelaskan jenis-jenis hewan yang halal dan haram dimakan
Indikator

:

  1. Mengidentifikasi hewan-hewan yang halal dan haram dimakan  dalam Islam beserta alasannya
  2. Mengklasifikasi kelompok hewan yang halal dan haram dimakan dalam Islam beserta alasannya.
Alokasi Waktu

:

1 X  40  menit ( 1 pertemuan)
Pertemuan I

:

Indikator 1 dan 2
  1. Tujuan Pembelajaran:

Dengan terlibat dalam permainan picture to picturedan concept map, peserta didik dapat mengidentifikasi dan mengklasifikasikan hewan-hewan yang dihalalkan dan diharamkan dalam Islam beserta alasannaya dengan tepat dan benar

  1. Karakter Peserta didik yang diharapkan :

Bekerja sama (cooperation), rasa hormat dan perhatian (respect), Berani (bravery), Tanggung jawab (responsibility)

  1. Materi Pembelajaran :

Hewan-hewan yang halal dan haram dimakan dalam Islam beserta alasannya

  1. Metode Pembelajaran :
  • Ceramah interaktif (Kalimat Pembuka)
  • Picture-to-Picture
  • Concept-Map
  1. Sumber Pembelajaran :
  • Buku paket PAI SMP kelas VIII
  • Kartu berlabel binatang halal dan binatang haram
  • Kartu berlabel binatang ternak, binatang unggas, binatang yang bangkainya halal, binatang bertaring dan buas, binatang kotor dan menjijikkan, binatang yang boleh dibunuh, binatang yang dilarang dibunuh, binatang yang hidup di dua alam
  • Gambar-gambar binatang
  • Buku Ayo Belajar Agama Islam untuk SMP

 

 

  1. VI.   Langkah-langkah Pembelajaran:

No

Kegiatan Pembelajaran

Pengorganisasian

Siswa

Waktu

Kegiatan Awal

1

Menyampaikan tujuan, apersepsi dan motivasi.

k

 5 menit

Kegiatan Inti

2

Eksplorasi :

Terdapat dua jenis kartu, kartu konsep dan kartu nama hewan. Kartu-kartu tersebut dibagi secara acak kepada peserta didik di kelas.

Kemudian peserta didik yang menerima kartu diberi kesempatan untuk mencermati konsep apa dan jenis hewan apa yang tertulis pada kartu

k/g

5 menit

3

Elaborasi :

Guru menfasilitasi kelas dengan cara bertanya : Siapa yang membawa kartu berlabel “hewan yang halal dan hewan yang haram”?

Peserta didik yang memegang ketiga kartu tersebut diminta maju ke depan kelas, untuk berdiri sambil memperlihatkan kartunya ke depan peserta didik lainnya.

Guru melanjutkannya dengan meminta peserta didik yang membawa kartu berlabel hewan ternak, hewan unggas, dan bangkainya halal, untuk merapat kepada peserta didik yang memegang kartu ‘hewan yang halal”.

Guru melanjutkannya dengan meminta peserta didik yang memegang kartu berlabel “bertaring dan buas, kotor dan menjijikkan, diperbolehkan membunuhnya, dilarang membunuhnya, dan hidup di dua alam”, untuk merapat kepada kawannya yang memegang kartu “hewan yang haram”.

Selanjutnya Guru meminta peserta didik yang tidak memegang kartu untuk mencermati, adakah hewan yang ada pada posisi yang kurang sesuai dengan klasifikasinya.

k/g

15 menit

4

Korfirmasi :

Guru bersama dengan seluruh anggota kelas bersama mengucapkan dengan suara keras dan kompak kartu-kartu yang dipegang oleh peserta didik di depan kelas.

Guru memandu dan memotivasi kelas untuk menyebutkan hewan yang halal dan hewan yang haram dalam Islam sesuai dengan klasifikasi dan jenis hewannya, beserta alasannya

Guru mengakhiri kelas dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan: ada berapa kelompok hewan yang dihalalkan dan hewan yang diharamkan dalam Islam?

k/g

5  menit

Penutup

5

Peserta didik dipandu oleh guru menyimpulkan bahwa hewan yang halal terdiri dari 3 kelompok, yakni, binatang ternak, binatang unggas, dan binatang yang bangkainya halal. Sedangkan hewan yang haram terdiri dari 5 kelompok, yakni, binatang bertaring dan buas, binatang kotor dan menjijikkan, binatang yang diperbolehkan membunuh, binatang yang dilarang membunuh, dan binatang yang hidup di dua alam

k

2 menit

6

Evaluasi/tes akhir ( terlampir )

i

8 menit

Keterangan: i = Individual;   p = berpasangan;   g = group;   k = klasikal.


 

  1. Penilaian:

Prosedur Tes:

-          Tes awal            : ada

-          Tes Proses        : ada

-          Tes Akhir           : ada

Jenis Tes:

-          Tes awal            : lisan

-          Tes Proses        : Pengamatan

-          Tes Akhir           : Tertulis

Alat Tes:

-          Tes awal:

  1. Sebutkan kelompok hewan yang halal dan hewan yang haram dalam Islam!
  2. Sebutkan jenis hewan apa saja yang termasuk dalam kelompok binatang ternak,  binatang unggas, dan binatang yang bangkainya halal!
  3. Sebutkan jenis hewan apa saja yang termasuk dalam kelompok binatang buas dan tertaring, binatang kotor dan menjijikkan, binatang yang boleh dibunuh, binatang yang dilarang dibunuh, dan binatang yang hidup di dua alam!
  4. Ada berapa kelompok hewan yang haram dan ada berapa kelompok hewan yang haram menurut ajaran Islam?

-          Tes proses:

NO

Indikator

NILAI

1

2

3

4

5

1

Keaktifan peserta dalam terlibat dalam permainan P-to-P, Concept map

2

Keaktifan dalam pengelompokan hewan yang halal dan hewan yang haram sesuai kartu yang dipegang

3

Keaktifan dalam berdiskusi

4

Keaktifan dalam menjawab pertanyaan

-          Tes akhir:

  1. Di antara hewan-hewan berikut ini, manakah yang merupakan kelompok binatang halal?

a.  ternak            b.   unggas      c.  bangkainya halal       d. semua benar

  1. Di antara hewan-hewan berikut ini, manakah yang merupakan kelompok binatang haram?
  2. Bertaring dan buas, kotor dan menjijikkan
  3. Binatang yang boleh dibunuh, binatang yang dilarang dibunuh
  4. Binatang ternak, bertaring dan buas, dan kotor dan menjijikkan
  5. Jawaban a dan b benar

-          Tugas Rumah:

Carilah dalil naqli (ayat-ayat al-Quran atau hadits Nabi SAW) yang menjelaskan tentang hewan yang halal dan hewan yang haram, selanjutnya ditulis dan diartikan dalam bahasa Indonesia.

Semarang,     Desember  2011

Mengetahui                                                                                                  Guru Mata Pelajaran PAI

Kepala Sekolah,

Ttd.                                                                                                                 Ttd.

 

 

Abu Ahmad Rifqy, M.Pd.,M.M.                                                                 Dra. Hj. Nurul Aini, M.S.I.


 

 


Disamping contoh penerapan model di atas, implementasi model belajar mandiri juga dapat menggunakan berbagai model pembelajaran berbasis konstruktivistik semisal pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran kooperatif (cooperative learning), pembelajaran kolaboratif (collaborative learning) dan model lainnya yang harus diartikulasikan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan lebih detail dapat terbaca dalam sekenario pembelajarannya.

  1. E.       PENUTUP

Demikian deskripsi singkat model belajar mandiri yang diklasifikasikan Prof. Haris Mujiman menjadi dua macam, yaitu: 1) Guided Self-Motivated Learning (Belajar Mandiri Terpimpin/ terbimbing), dan 2) Independent Self-Motivated Learning (ISML) atau disebut juga Self-Motivated Professional Development Model (SMPD). Keduanya telah dideskripsikan secara jelas dalam bukunya. Kedahsyatan “model belajar mandiri” sebagai payung terletak pada sifat fleksibilitasnya yang dapat diterapkan dalam berbagai status. Kesemuanya memiliki ciri yang sama, yaitu didasarkan pada konsep belajar mandiri dan bertujuan meningkatkan motivasi belajar. Contoh penerapan yang disajikan penulis di atas lebih berbasis pengalaman individu dan tentunya bersifat subyektif, namun demikian diharapkan setidaknya memberi inspirasi bagi siapapun untuk terus bekreasi dalam kerangka pengembangan profesi pendidik sesuai jenjang dan tugas utamanya.

Pengembangan buku karya Guru besar UNS yang sangat bermanfaat tersebut, menurut saya, pada edisi revisi berikutnya perlu lebih banyak diberikan contoh-contoh praktis berbasis pengalaman pada bab tersendiri, sehingga buku tersebut akan terasa lebih aplikatif bagi pendidik di semua jenjang, baik dosen, guru, widyaiswara, pelatih dan pendidik sejenis lainnya. Lebih hebat lagi bila sang penulis terinspirasi untuk menulis buku baru lanjutan belajar mandiri untuk mewadahi contoh aplikatif dan praktis sesuai jenjang dan tuntutan profesi penggunanya. Semoga bermanfaat. []

 

[][][][][]


DAFTAR PUSTAKA

Elizabeth F. Barkley at.all, Collaborative Learning Techniques, (San Francisco: Jossey-Bass, 2005).

Haris Mujiman, Belajar Mandiri (Self-Motivated Learning), (Surakarta: LPP dan UNS Press, edisi 2, 2009).

Haris Mujiman, Belajar Mandiri, Pembekalan dan Penerapan, (Surakarta: UNS Press, edisi Agustus 2011).

Haris Mujiman, Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006).

Ismail SM, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) (Semarang: Penerbit Rasail Media Group, edisi 12, 2011).

Ismail SM & Lift Anis Ma’shumah, Microteaching: Pengantar Menjadi Guru Profesional, Semarang: Rasail Media Group, Cet ke-1, Februari 2010).

Ismail SM, “Studi tentang Peningkatan Mutu Akademik melalui Implementasi Strategi Pembelajaran Aktif (Active Learning) di IAIN Walisongo Semarang”, Laporan penelitian individual (Semarang: Pusat Penelitian IAIN Walisongo).

Ismail SM dkk., Remaja Mengenal Fiqh (Buku Ajar), (Yogyakarta: PIM, 2006)

Mayer, Richard E., Learning and Instruction, (Pearson Prentice Hall, 2nd edition, 2008)

Melvin L. Silberman, Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject (Boston: Allyn and Bacon, 1996).

Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2009 Tentang Dosen.

Slavin, R.E., Cooperative Learning: Theory, research and practice, (Boston: Allyn and Bacon, 1990)

Smith, K.A., Cooperative Learning: Making “group work” work, In T.E. Sutherland & CC. Bonwell (eds.), Using active Learning in college classes (1996).

Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.