PENDIDIKAN NILAI

Penyusun :

I s m a i l, Mintarsih arbarini, Mawardi, Arief sadjiarto

 Bab I. Permasalahan

A. Latar Belakang

Memasuki abad ke-21 yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) amat mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai-nilai, baik nilai budaya, adat istiadat, maupun nilai agama. Perkembangan iptek tersebut nyaris menghilangkan batas ruang dan waktu  sehingga dunia seakan menyatu dalam suatu kampung global (global village). Pertukaran informasi termasuk nilai antarbangsa langsung secara cepat dan penuh dinamika, sehingga mendorong terjadinya proses perpaduan nilai, kekaburan nilai, bahkan terkikisnya nilai-nilai asli yang menjadi identitas komunitas yang bersifat sakral, kini tengah berada di persimpangan jalan.

Pada saat nilai-nilai advantage dan ideologi globalisasi mengalir deras ke segala penjuru dunia yang dihembuskan oleh para pencetus dan pendukungnya, pada saat itu terjadi proses aleanasi nilai-nilai budaya masyarakat lokal sehingga mengakibatkan kegamangan nilai (bahkan split personality). Kegamangan nilai muncul karena kecenderungan manusia era global lebih mengutamakan kemampuan akal dan memarginalkan peranan nilai-nilai Ilahiyah (agama). Akibatnya, manusia kehilangan ruh kemanusiaan yang hampa dan nilai-nilai spiritual. Kemampuan daya nalar (rasionalitas) telah mencapai titik puncaknya yang tidak dibarengi dengan kekuatan ruhaniah, berakibat hidup menjadi kekosongan makna.

Karena tantangan efek bola salju dari arus informasi global yang nyaris memporakporandakan nila-nilai lokal, maka proses pembinaan nilai lokal (indegenious) kini menjadi sangat penting. Susanto (1998) menyebutkan dalam era globalisasi yang terbuka ini, terpaan informasi sangat memungkinkan seseorang mengadopsi nilai-nilai, pengetahuan, dan kebiasaan luar lingkungan sosialnya yang boleh jadi dapat mempengaruhi pola pikir dan pola tindak yang selama ini dimilikinya, yang kadang kala bisa melahirkan aleanasi dengan segala implikasinya.

Akibat dari kondisi tersebut, kini sumber-sumber nilai yang menjadi panutan sangat beragam. Keluarga dan lingkungan sosial yang semula menjadi sumber nilai dominan mengalami reduksi peran. Institusi pendidikan, institusi pekerjaan, media informasi dan persentuhan dengan budaya lain merupakan penganekaragaman sumber nilai yang menjadi rujukan bagi seseorang. Sehingga proses enkulturasi seperti imitasi dapat dilakukan melalui media-media lain yang amat dipengaruhi nilai-nilai global.

Dalam kondisi semacam itu, ada kecenderungan pertahanan nilai moral yang menjadi pegangan masyarakat akan semakin tergoyahkan, nilai tradisi bangsa Indonesia yang ramah, lembut, dan santun bisa tergilas oleh nilai-nilai moral yang bersandar dan berlindung kepada kebebasan dengan mengatasnamakan hak asasi. Dengan demikian standar nilai yang dipegang oleh masyarakat akan semakin tidak jelas dan mudah digantikan dengan standar lainnya. Nilai-nilai yang bersumber kepada budaya atau tata nilai yang dipegang teguh masyarakat akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Karena itu, rujukan nilai moral yang dikembangkan oleh pendidikan tidak cukup hanya berdasarkan kepada nilai moral masyarakat, melainkan nilai transendental yang bersumber dari agama.

Ketertarikan masyarakat pendidikan terhadap perlunya pembinaan nilai mulai tampak setelah terjadi berbagai masalah demoralisasi di masyarakat. Sebagian mereka mulai mempertautkan kembali pendidikan dengan nilai, padahal pendidikan pada hakikatnya tidak pernah lepas dari nilai. Gaffar (2004) menyebutkan bahwa pendidikan bukan hanya sekedar menumbuhkan dan mengembangkan keseluruhan aspek kemanusiaan tanpa diikat oleh nilai, tetapi nilai itu merupakan pengikat dan pengarah proses pertumbuhan dan perkembangan tersebut.

Berangkat dari latar belakang tersebut, makalah ini akan mendiskusikan topik pendidikan nilai dengan beberapa unsur yang terkait dalam kerangka ikut memberikan kontribusi pemikiran tentang pentingnya pendidikan nilai dan bagaimanakah semestinya pendidikan nilai dilaksanakan oleh para aktor pendidikan.

 

B. Rumusan Masalah

Agar pembahasan lebih sistematis, maka dalam makalah ini diajukan beberapa rumusan permasalahan berikut:

  1. Apakah hakikat makna nilai?
  2. bagaimana konsep pendidikan nilai?
  3. Dengan pendekatan dan model apa sajakah pendidikan nilai dilaksanakan?

 

Bab II. Pembahasan

A. Hakikat Makna Nilai

Apakah yang dimaksud dengan nilai? Apa fungsi nilai bagi masyarakat? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu saja bermanfaat bagi kita untuk bisa memahami konsep dasar nilai. Oleh karena itu, pembahasan berikut akan berupaya paling tidak menjawab 2 (dua) pertanyaan tersebut.

Nilai dapat diartikan sebagai hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan (Poewadarminta, 1984). Nilai padanan kata dalam bahasa Inggrisnya adalah “value”. Sementara value sendiri artinya “quality of being useful or desirable” (A.S. Hornby (1982). Nilai atau value, berasal dari bahasa Latin valare atau bahasa Prancis Kuno valoir yang artinya nilai. Sebatas anti denotatifnya, valare, valoir, value atau nilai dapat dimaknai sebagai harga.

Kenapa nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bagaimana nilai dimiliki oleh seseorang? Batasan tentang nilai dapat mengacu kepada minat, kesukaan, pilihan, tugas, kewajiban agama, kebutuhan, keamanan, hasrat, keengganan, daya tarik, dan hal- hal lain yang berhubungan dengan perasaan seseorang dan orientasinya (Pepper dalam Soelaeman, 2005). Namun kalau kata tersebut dihubungkan dengan suatu obyek atau dipersepsi dari suatu sudut pandang tertentu, harga yang terkandung di dalamnya memiliki tafsiran yang bermacam-macam. Harga suatu nilai hanya akan menjadi persoalan ketika hal itu diabaikan sama sekali. Maka manusia dituntut untuk menempatkannya secara seimbang atau memaknai harga-harga lain, sehingga manusia diharapkan berada dalam tatanan nilai yang melahirkan kesejahteraan dan kebahagiaan.

Dapat disimpulkan bahwa nilai merupakan rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan. Sejalan dengan definisi itu maka hakikat dan makna nilai adalah berupa norma, etika, peraturan, undang-undang, adat kebiasaan, aturan agama dan rujukan lainnya yang memiliki harga dan dirasakan berharga bagi seseorang dalam menjalani kehidupannya. Nilai bersifat abstrak, berada di balik fakta, memunculkan tindakan, terdapat dalam moral seseorang. muncul sebagai ujung proses psikologis, dan berkembang ke arah yang lebih kompleks.

B. Konsep Pendidikan Nilai

Pada dasarnya, pendidikan nilai dapat dirumuskan dari dua pengertian dasar yang terkandung dalam istilah pendidikan dan nilai. Ketika dua istilah itu disatukan, arti keduanya menyatu dalam definisi pendidikan nilai. Namun, karena arti pendidikan dan arti nilai dimaksud dapat dimaknai berbeda, definisi Pendidikan Nilai pun dapat beragam bergantung pada tekanan dan rumusan yang diberikan pada kedua istilah itu.

Mulyana (2004) mengartikan Pendidikan Nilai sebagai penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada diri seseorang. Nilai sebagai bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya. Pendidikan Nilai tidak hanya merupakan program khusus yang diajarkan melalui sejumlah mata pelajaran, akan tetapi mencakup keseluruhan program pendidikan.

Hakam (2000) mengungkapkan bahwa Pendidikan Nilai adalah pendidikan yang mempertimbangkan objek dari sudut moral dan sudut pandang non moral, meliputi estetika, yakni menilai objek dan sudut pandang keindahan dan selera pribadi, dan etika yaitu menilai benar atau salahnya dalam hubungan antar pribadi.

Dari tiga definisi di atas, dapat dimaknai bahwa Pendidikan Nilai adalah proses bimbingan melalui suri tauladan pendidikan yang berorientasi pada penanaman nilai-nilai kehidupan yang di dalamnya mencakup nilai agama, budaya, etika, dan estetika menuju pembentukan pribadi peserta didik yang memiliki kecerdasan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian yang utuh, berakhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, dan negara.

Dalam proses pendidikan nilai, tindakan-tindakan pendidikan yang lebih spesifik dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih khusus sebagaimana diungkapkan Komite APEID (Asia and the Pasific Programme of Education Innovation for Development) bahwa Pendidikan Nilai secara khusus ditujukan untuk: a) menerapkan pembentukan nilai kepada peserta didik, b) menghasilkan sikap yang mencerminkan nilai-nilai yang diinginkan, dan c) membimbing perilaku yang konsisten dengan nilai-nilai tersebut. Dengan demikian, Pendidikan Nilai meliputi tindakan mendidik yang berlangsung mulai dari usaha penyadaran nilai sampai pada perwujudan perilaku-perilaku yang bernilai.

Sementara Winecoff (1988:1-3) mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan nilai adalah sebagai berikut: Purpose of Values Education is process of helping students to explore exiting values through critical examination in order that they might raise of improve the quality of their thinking and feeling.

Bagaimana keterkaitan antara sikap dengan nilai? Nilai yang dimiliki seseorang dapat mengekspresikan mana yang lebih disukai mana yang tidak disukai. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa nilai menyebabkan sikap. Nilai merupakan faktor penentu bagi pembentukan sikap. Tetapi jelas bahwa sikap seseorang ditentukan oleh banyak nilai yang dimiliki oleh seseorang. Berikut adalah bagan atau gambar 1 tentang proses kepemilikan nilai oleh seseorang dalam masyarakat.

Gambar 1: Proses Kepemilikan Nilai yang Menghasilkan Struktur Sosial

Sumber: Hardie, N. et al (Ruswendi, dkk. 2007).

 

Memahami dan mempelajari nilai akan lebih jelas bila kita juga mempelajari tentang watak nilai karena dengan memahami watak nilai ini seseorang akan mengetahui sesuatu yang berharga dalam kehidupan ini. Selain itu, dengan mempelajari nilai ini seseorang akan mengetahui apa yang harus diperbuatnya untuk menjadi manusia dalam anti sebenar-benarnya. Dengan demikian nilai itu sendiri mempunyai dasar pembenaran atau sumber pandangan dari berbagai hal seperti metafisika, teologi, etika, estetika, dan logika.

Sasaran yang hendak dituju dalam Pendidikan Nilai adalah penanaman nilai-nilai luhur ke dalam diri peserta didik. Untuk mencapai tujuan dan sasaran secara efektif maka berbagai pendekatan, model dan metode dapat digunakan dalam proses pendidikan nilai. Ini penting, untuk memberi variasi kepada proses pendidikannya sehingga menarik dan tidak membosankan peserta didik.

 

C. Pendekatan dan Model Pendidikan Nilai

Dalam pendidikan nilai terdapat beberapa pendekatan dan model. Djahiri (1992) mengemukakan delapan pendekatan dalam pendidikan nilai atau budi pekerti, yaitu:

(1)     Evocation; yaitu pendekatan agar peserta didik diberi kesempatan dan keleluasaan untuk secara bebas mengekspresikan respon afektifnya terhadap stimulus yang diterimanya.

(2)     Inculcation; yaitu pendekatan agar peserta didik menerima stimulus yang diarahkan menuju kondisi siap.

(3)     Moral Reasoning; yaitu pendekatan agar terjadi transaksi intelektual taksonomik tinggi dalam mencari pemecahan suatu masalah.

(4)     Value clarification; yaitu pendekatan melalui stimulus terarah agar siswa diajak mencari kejelasan isi pesan keharusan nilai moral.

(5)     Value Analysis; yaitu pendekatan agar siswa dirangsang untuk melakukan analisis nilai moral.

(6)     Moral Awareness; yaitu pendekatan agar siswa menerima stimulus dan dibangkitkan kesadarannya akan nilai tertentu.

(7)     Commitment Approach; yaitu pendekatan agar siswa sejak awal diajak menyepakati adanya suatu pola pikir dalam proses pendidikan nilai.

(8)     Union Approach; yaitu pendekatan agar peserta didik diarahkan untuk melaksanakan secara riil dalam suatu kehidupan.

Sementara itu, Hers (1980) mengemukakan empat model pendidikan nilai, yaitu teknik pengungkapan nilai, analisis nilai, pengembangan kognitif moral, dan tindakan sosial. Keempat model tersebut dapat dijelaskan berikut. Pertama; teknik pengungkapan nilai adalah teknik yang memandang pendidikan moral dalam pengertian promoting self-awareness and self caring dan bukan mengatasi masalah moral yang membantu mengungkapkan moral yang dimiliki peserta didik tentang hal-hal tertentu. Pendekatannya dilakukan dengan cara membantu peserta didik menemukan dan menilai/menguji nilai yang mereka miliki untuk mencapai perasaan diri.

Kedua, model analisis nilai, yaitu model yang membantu peserta didik mempelajari pengambilan keputusan melalui proses langkah demi langkah dengan cara yang sangat sistematis. Model ini akan memberi makna bila dihadapkan pada upaya menangani isu-isu kebijakan yang kompleks. Ketiga, pengembangan kognitif moral, yaitu model yang membantu peserta didik berpikir melalui pertentangan dengan cara yang lebih jelas dan menyeluruh melalui tahapan-tahapan umum dan pertimbangan moral. Keempat, tindakan sosial, yaitu model yang bertujuan meningkatkan keefektifan peserta didik mengungkap, meneliti, dan memecahkan masalah sosial.

Terdapat empat hal penting yang perlu diperhatikan dalam menggunakan model pendidikan moral, yaitu: berfokus kepada kehidupan, penerimaan akan sesuatu, memerlukan refleksi lebih lanjut, dan harus mengarah pada tujuan (Raths, 1965). Model-model tersebut melihat Pendidikan nilai sebagai upaya menumbuhkan kesadaran diri dan kepedulian diri, bukan pemecahan.

Sedangkan menurut Wibisono (2000) langkah-langkah implementasi pendidikan nilai dapat dikembangkan dalam proses belajar mengajar yang berwawasan berikut ini. (1) Spiritual untuk meletakkan nilai-nilai etik dan moral serta re­ligiusitas sebagai dasar dan arah pengembangan sains. Character based approach perlu diterapkan dalam setiap mata kuliah untuk mengembangkan sikap “saling menyapa”antara sains dan moral. (2) Akademis untuk menunjukkan kaidah-kaidah normatif yang harus dipatuhi dalam menggali dan mengembangkan ilmu yang oleh Mer­ton kaidah-kaidah itu disebut sebagai universalisme, komunalisme, disinterestedness, dan skeptisisme yang terarah. (3). Mondial untuk menyadarkan bahwa siapapun pada masa depan harus siap untuk menghadapi dialektikanya perubahan yang ber­langsung secara cepat dan mendasar, dan secara cepat dan tepat sanggup mengadaptasi diri dengan perobahan itu, untuk kemudian sanggup mencari jalan keluarnya sendiri dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi.

Untuk kepentingan proses belajar-mengajar seperti dimaksud di atas, model indoktriner dirasa tidak sesuai lagi. Metode pendidikan lebih menekankan pada pembelajaran (learning), bukan pengajaran (teaching) dan berlangsung dalam suasana demokratis, tidak ada pemaksaan, diberikan kesempatan untuk berpikir kritis dan bebas untuk menanggapi. Guru sebagai fasilitator serta mo­tivator peserta didik.

Dalam konteks melaksanakan pendidikan nilai, maka seharusnya pendidik menentukan lebih dulu visi, misi dan sasarannya yang mengandung muatan yang holistik. Karena peserta didik sebagai subyek didik bukan hanya sekedar mengetahui nilai dan sumber nilai, melainkan perlu dibimbing ke arah nilai-nilai luhur yang harus diaktualisasikan dalam kehidupan pribadinya, di dalam keluarga, masyarakat, negara dan percaturan dunia. Ia juga harus menyadari nilai orang lain, nilai masyarakat, nilai agama orang lain, bangsa lain serta mampu hidup arif dan bijak dalam perbedaan nilai tersebut sehingga tercipta kerukunan hidup dan perdamaian sejati.

Dengan demikian pendidikan nilai yang juga identik dan memiliki esensi makna yang sama dengan pendidikan moral, pendidikan akhlak, pendidikan budi pekerti, pendidikan karakter dan sejenisnya– merupakan keniscayaan yang tidak dapat ditawar dalam sistem pendidikan nasional Indonesia pada setiap jenjang, satuan dan jalur pendidikan baik formal, informal maupun nonformal.[]

Bab III. Penutup

A. Simpulan

Dari uraian pembahasan topik dan sub topik sebelumnya, dapat disimpulkan berikut.

Pertama, bahwa nilai merupakan rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan. Sejalan dengan definisi itu maka hakikat nilai adalah berupa norma, etika, peraturan, undang-undang, adat kebiasaan, aturan agama dan rujukan lainnya yang memiliki harga dan dirasakan berharga bagi seseorang dalam menjalani kehidupannya.

Kedua, Pendidikan Nilai adalah proses bimbingan melalui suri tauladan pendidikan yang berorientasi pada penanaman nilai-nilai kehidupan yang di dalamnya mencakup nilai agama, budaya, etika, dan estetika menuju pembentukan pribadi peserta didik yang memiliki kecerdasan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian yang utuh, berakhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, dan negara.

            Ketiga, sasaran yang hendak dituju dalam Pendidikan Nilai adalah penanaman nilai-nilai luhur dan mulia ke dalam diri peserta didik. Untuk mencapai tujuan dan sasaran secara efektif maka berbagai pendekatan dan model dapat digunakan dalam proses pendidikan nilai.

Keempat, pendidikan nilai yang juga identik dengan pendidikan moral, pendidikan akhlak mulia, pendidikan budi pekerti, pendidikan karakter dan sejenisnya– merupakan keniscayaan yang harus dilaksanakan pemerintah Indonesia karena termasuk amanah Undang-undang sistem pendidikan nasional.

B. Saran

Dalam konteks melaksanakan pendidikan nilai, maka disarankan setiap pendidik menentukan lebih dulu visi, misi dan sasarannya yang mengandung muatan yang utuh, holistic demi mengantarkan peserta didik menjadi manusia yang utuh pula, seimbang dalam kehidupan jasmaniah dan rohaniahnya untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Hendaknya pemerintah sebagai pemegang kebijakan selalu melakukan fasilitasi yang maksimal dan komprehensif demi terjaminnya pendidikan nilai yang berhasil di semua satuan, jenjang, dan jalur pendidikan, baik formal, informal maupun non formal.[]

DAFTAR PUSTAKA

Bagus  Lorens (2002), Kamus Filsafat, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama.

Bartens, K. (2004), Etika, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama.

Bull, Norman J. (1969). Moral Judgment from Childhood to Adolescence. London: Routledge & Kegan Paul.

Djahiri, Kosasaih. (1992). Menelusuri Dunia Afektif untuk Moral dan Pendidikan Nilai Moral. Bandung: LPPMP.

Djamil,  Fathurrahman, (1999), Filsafat Hukum Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu

Mulyana, Rohmat, (2004), Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, Bandung, Alfabeta.

Haricahyono, Cheppy. (1995). Dimensi-dimensi Pendidikan Moral. Semarang: IKIP Semarang Press.

Hers, Richard H. et al. (1980). Model of Moral Education: An Appraisal. New York: Longman Inc.

Kattsoff, Louis, (Alih Bahasa: Soejono Soemargono), (2004), Pengantar Filsafat, Yogyakarta, Tiara Wacana Yogya.

Nasution, Harun, (1979), Filsafat Agama, Jakarta: PT. Bulan Bintang.

Sumantri, E. (2003). Resume Perkuliahan Filsafat Nilai dan Moral. Bandung: Pascasarjana UPI.

Wibisono, Koento. 2000. “Strategi Integrasi Pengembangan Sain dan Moral pada Milinium III” (Perguruan Tinggi Sebagai Unsur Pendukungnya). Yogyakarta: ASMI Santa Maria, Seminar Sehari 5 Februari 2000.

[][][][][]