Wamenag : Kabah Rumah Pertama di Bumi

Rabu, 3 Oktober 2012 –

Jakarta (Pinmas)—Rumah sebagai tempat beristirahat untuk menikmati kehidupan yang nyaman dan ketenangan serta tempat berkumpulnya keluarga, dan tempat untuk menunjukkan tingkat sosial dalam masyarakat. Adapun rumah yang paling pertama di bangun di muka bumi adalah Ka’bah di Makkah al Mukarramah.

Prof Dr Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama RI menuturkan hal itu saat memberikan ceramah pada acara tasyakuran dalam rangka peringatan Hari Perumahan Nasional 2012 di kantor Kementerian Perumahan Rakyat di Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa sore (2/10).

“Sesungguhnya rumah yang pertama kali didirikan bagi manusia adalah yang di Bakkah (Mekkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam,” tutur Wamenag Nasaruddin Umar mengutip terjemahan sebuah ayat pada kitab suci Al-Quran yakni ayat 96, Surat Ali ‘Imran.

Menurut dia, saat Nabi Adam dengan istrinya Siti Hawa diturunkan ke muka bumi oleh Sang Khaliq, permintaan yang pertama adalah agar dibuatkan rumah. “Yang mula-mula diminta Adam yaitu rumah, lalu dibangunkan oleh malaikat,” jelas Nasaruddin seraya menambahkan Ka’bah merupakan rumah yang pertama, yakni didirikan lebih dahulu dibandingkan dengan semua tempat ibadah manapun.

Keberadaan Ka’bah di bumi, lanjutnya mengalami proses. “Pada awalnya bentuknya masih kecil, lalu Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail membangun sehingga menjadi lebih besar,” jelasnya.

Wamenag mengatakan, dalam kehidupan di bumi ini semua makhluk hidup membutuhkan rumah. “Tentu kementrian ini menginginkan agar bisa menciptakan perumahan rakyat yang berkah,” tuturnya pada acara yang dihadiri Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, serta pejabat dan karyawan Kemenpera.

Rumah seorang Muslim, kata Nasaruddin, pada pantulan mata setiap sudutnya mengajak kita kembali kepada Allah Swt. Kita mengangkat kepala sedikit, di situ ada kaligrafi ayat. Balik kanan kita, di situ ada susunan Alquran. Membuka lemari, di situ ada CD-CD Alquran. Masuk ke dalam kamar, di situ ada sajadah yang tergelar, di situ ada tasbih bergelantungan. Masuk ke kamar mandi, di situ ada tempat wudu. Keluar dari pintu rumah, di situ ada tempat untuk tadabur alam. Di seluruh sudut rumah itu ada undangan untuk pergi menjumpai Tuhan. “Rumah yang tenang, yang tentram, selalu dipakai untuk salat berjamaah,” tuturnya. (ks)